Sejenak kita boleh memasuki momen rupa yang dihadirkan oleh kelompok SERUNI (Seni Rupa Kristen Indonesia) dalam rangka memaknai Paskah 2011, di tengah publik seni rupa, akademia, masyarakat Kristen, institusi-institusi Kristen, Gereja dan terbuka lagi bagi masyarakat luas. Berangkat dari gagasan Eddy Soetriyono yang saya elaborasi, menyoal apakah seni rupa Kristen Indonesia dan bagaiman persoalan representasinya? (Eddy Soetriyono, “Jadilah Garam Seni Rupa; Sebuah Pengantar Diskusi”, Pamesrani, 1991) Persoalan tersebut masih relefan untuk dibangkitkan dan urgen untuk dijawab melalui even pameran perupa SERUNI kali ini! Melalui ekspresi karya-karya seni rupa Kristen Seruni, kita diajak untuk mericek aspek-aspek Keindonesiaan lewat artikulasi artistik maupun tematik. Ada dua pokok besar persoalan yang perlu saya hantarkan supaya kita mengakrabi proses apresiasi seni rupa Kristen melalui pameran perupa SERUNI bertema “BCOZOFME” (Inggris: “Because of me”), sebagai berikut: Pertama, menyoal apa itu seni rupa Kristen Indonesia? Dan persoalan menatap seni rupa Kristen Indonesia. Kedua, kita diajak merefleksi serta mendialogkan melalui pameran seni rupa Kristen SERUNI bertema “BCOZOFME”.
Kaitan Sejarah
Pada mulanya agama Kristen tidak berhubungan dengan seni rupa, bahkan agama-agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) melarang representasi atau visualisasi mahluk hidup (hewan dan manusia) karena ketakutan disorientasi religi pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Maka proses penerimaaan Kekristenan awal di daratan Eropa harus memberi apologia (pembelaan teologis) terhadap integrasi seni rupa dalam gereja. Simbol-simbol dan lukisan di Catacomb hasil represi terhadap Kekristenan mengawali kebudayaan visual Kristen Eropa yang memuncak dalam kejayaan Golden Age. Penggunaan ikon-ikon dan simbol-simbol Kekristenan justru banyak mengadopsi dari tradisi dan mitologi Yunani-Romawi. Dalam penggambaran “The Good Shepherd” di Roma, Catacomb of Marcellinus and Peter, abad ke-4. Figur Tuhan sebagai Gembala mengambil dari seni Yunani, yakni penggambaran Hermes membawa domba. Demikian juga gambaran Yesus di era itu mengambil dari perwajahan dewa Zeus yang bercambang lebat serta menakutkan. Perkembangan sejarah seni rupa Kristen di Eropa ditandai dari masa Katakombe, Bizantium, Romawi, Orthodok, Klasik Renaisans, Reformasi dan berlanjut dalam jenis seni rupa Modern. Hingga era Renaisance seni rupa masih dianggap sebagai hasil kerja pertukangan yang belum diakui aspek keindahan dan orisinilitasnya atau nilai estetika. Gereja memakai seni untuk kepentingan syiar agama, negara memakai seni untuk memperoleh legitimasi politik, dan seni rupa membentuk nilai estetis-idelogis dalam konteks jamannya.
Pengertian seni rupa sesungguhnya baru muncul dalam diskursus akademia yang berbasis pada rasionalitas dan estetika (keindahan), salah satu tokoh perupa dan pemikirnya adalah Leonardo Da Vinci (1452-1519). Di kemudian waktu seorang tokoh pemikir kesenian bernama Theodor W. Adorno (1903-1969) memberi pengertian "Seni Tinggi" untuk Seni Murni dan "Seni Rendah" untuk Seni Terapan. Karena menurutnya dalam seni tinggi seorang seniman tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal (kebutuhan market atau bertujuan komersial) dalam menciptakan sebuah karya seni, dan seni terapan berlaku sebaliknya. Pada umumnya kita mengenal karya-karya seni rupa Kristen, seperti: “Last Supper” (1495-48, oleh Leonardo Da Vinci), patung “David” atau patung “Pieta” oleh Michelangello (1475-1564). Hanya sayang sekali! Apresiasi seni rupa kaum awam, para praktisi seni rupa dan gereja sampai hari ini, masih berhenti pada eksplorasi ikonik, simbolik, narasi Biblis ala romantik-naturalis. Ada pula jenis seni kitsch (selera rendah atau imitasi).
Karena gereja bersifat tradisional, maka ia kesulitaan untuk mengikuti, mengkritisi bahkan menginspirasi bagi perkembangan jaman. Simbol-simbol dan ikon-ikon yang telah dihasilkan oleh gereja dan kebudayaan Barat, telah menjadi role model yang terus direpetisi melalui tradisi gereja hingga kini. Kesenian rupa Kristen berhenti pada level tekstualisasi Biblis, dan bila keluar dari sana, maka mudah sekali gereja memisahkan dengan penilaian sekular. Persoalan seni rupa Kristen di Indonesia dalam sejarahnya memang belum menjadi diskursus dan membangkitkan persoalan kesenian. Meskipun dalam perkembangannya di abad 20 hingga kini, baik secara komunal maupun individual telah ada perupa kita yang mengembangkan gagasan seni rupa religius-spiritual Kristen. Saya mengeksplisitkan bahwa, seni rupa Kristen bukan sekedar indah ala romantik-naturalis dan naratif Alkitabiah! Secara vertikal dan horisontal harus mengandung ideologi “Kerajaan Tuhan” dengan membawakan karakter budaya Indonesia. Sehingga bangunan seni rupa Kristen Indonesia harus mampu mengartikulasikan kesadaran religi-budaya secara terus-menerus. (Lihat kedua kroping Image yang saya sertakan).
Proses Inkulturasi
Membicarakan kapan munculnya seni rupa Kristen Indonesia, tidak bisa dilihat dari gejala kekiniannya saja tetapi harus meninjau jejak historis bagaimana proses inkulturasi agama Kristen pada kebudayaan Indonesia. Kita harus menyepakati dahulu sebuah pengertian, bahwa tumbuhnya suatu gejala kebudayaan tidak terjadi secara natural melainkan berangkat dari proses negosiasi nilai yang terjadi secara terus-menerus. Bangunan Kekristenan dan Keindonesiaan tidak seharusnya dikapling-kapling! Persoalan seni rupa Kristen harus diberangkatkan sebagai proses mengkonstruksi ideologi Keindonesiaan secara terus-menerus.
Kekristenan orang-orang Indonesia bermuasal dari tradisi Judeo, yakni bangsa Israel di Timur tengah. Berita injil disebarkan oleh bangsa Barat, antara lain Portugal, VOC atau Belanda dalam bagian dari ekspedisi kolonial ke Nusantara pada seputaran abad 14. Proses inkulturasi agama Kristen ke Nusantara hungga kini masih membawa persoalan hegemonisasi modern Barat. Tumbuhnya budaya Kristen di masing-masing wilayah Indonesia punya kekhasan, ada pun latarbelakang budaya lokal nusantara secara luas menganut Animisme-Hinduisme. Gejala inkulturasi agama Kristen (Protestan-Katholik) khusnya pada periode Hindia Belanda di abad 19-an, ditandai dengan penggunaan aspek-aspek visualitas (rupa) dan seni arsitektural dalam merekonstruksi Kekristenan di Indonesia (lihat gagasan inkulturasi katalog-buku, Volker Küster, “Christian Art in Asia: Yesterday dan Today”, The Christian Story: Five Asian Artist Today, Mobia, New York, 2007).
Dua kasus inkulturasi seni rupa Kristen Indonesia yang menarik untuk saya contohkan di sini antara lain: Representasi patung Yesus versi Hindu Jawa dan artsitektur gereja candi Ganjuran di Bantul Yogyakarta (dibangun pada tahun 1924 atas prakarsa dua bersaudara keturunan Belanda, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer). Kedua, gereja gaya Hindu-Jawa Puhsarang Kediri buah karya Ir. Henricus Maclaine Pont pada tahun 1936 atas permintaan pastor paroki Kediri H. Wolters, CM. Karya arsitektural dan seni rupa gereja Puhsarang mengkontekstualisasikan Injil yang menderivasi simbol-simbol Kekristenan di era Yunani-Romawi ke dalam kebudayaan Hindu-Jawa. Gereja Puhsarang menjadi bukti tensi evangelisasi dunia modern Barat ke dalam inkulturasi seni rupa modern, cuplikan kisah-kisah Alkitab, beserta tokoh-tokohnya.
Memasuki abad ke-20, pengaruh modernisasi, kapitalisasi dan demokratisasi kian membuka kesadaran bangsa Indonesia untuk memperjuangkan nilai-nilai “kemerdekaan”. Menurut saya seni rupa Kristen modern (dalam konteks seni lukis, grafis dan patung) mengalir di dalam tubuh seni rupa modern Indonesia yang digagas oleh S. Sudjojono. Perupa-perupa modern awal yang melahirkan karya-karya religi Biblis, seperti S. Sudjojono (1917-1986), Basuki Abdullah (1915-1993), Bagong Kusudiarjo (1928-2004). Karya-karya seni rupa Kristen modern kontemporer perupa Basuki Abdullah, Bagong Kusudiardjo, Noman Darsana (1938), mengangkat latarbelakang budaya dalam menterjemahkan iman Kristen. Karya-karya mereka belum memberi pijakan kuat, namun telah menunjukkan tanda-tanda ke mana seni rupa Kristen Indonesia dilabuhkan.
Subyek Persoalan
Seni rupa Kristen Indonesia tidak menyambung secara linier dari bangunan historis seni rupa Kristen Barat, melainkan punya persoalan sendiri. Karena Kekristenan dan Keindonesiaan tidak terpisahkan, maka persoalan ideologis ini melatarbelakangi dalam konstruksi seni rupa. Seni rupa modern Indonesia lahir sebagai antitesa dari seni Moi Indie (gaya naturalis-romatik) dan resisten terhadap bentuk-bentuk kolonialisme budaya. Seni rupa Kristen di era kolonial mewariskan persoalan identitas Keindonesiaan yang hingga kini masih menjadi subyek persoalan untuk kita jawab. Volker Küster menangkap persoalan seni rupa Kristen Indonesia punya potensi resisten terhadap “Pembaratan”, kenyataan ini disebutnya sebagai diaspora, migrasi, postcolonial or intercultural studies in academic circles (lihat: Volker Küster, “Re/ Constructing Identities-Third World Christian Art and Diaspora Art Compared”, “Visual Arts and Religion”, Contact Zone, 2009, h. 47). Persoalan lain, gereja dan institusi-institusi Kristen belum menjadi penyangga dari jenis seni rupa Kristen Indonesia. Kondisi tersebut menumbuhkan peran individu perupa, budayawan, akademi, dan infrastruktur market yang selama ini memberdayakan kelangsungannya. Di sinilah urgensi SERUNI dan kelompok-kelompok seni rupa Kristen untuk menjawab tantangan jamannya!
Intensi
Mari kita masuk pada persoalan intensi seni rupa Kristen Indonesia dan aspek-aspek representasi bentuk. Secara ideologis jenis seni rupa Kristen diciptakan mengarah pada dua sumbu, yakni transenden (Ketuhanan Kristus-Biblis) dan sumbu horisontal (kemanusiaan-kebudayaan). Saya kira perupa yang ingin mewujudkan seni rupa Kristen Indonesia dapat dinilai dari konsistensi keseniannya untuk mengembangkan religi-budaya, kecerdasan dan kematangan teknik-artistik, serta dilengkapi dengan bangunan manajemen seni rupa. Seni rupa Kristen kontemporer di Asia sudah dapat berdiri setara dengan seni rupa modern-kontemporer, kenyataan ini dikuatkan oleh penelitian Prof. Volker Küster, demikian: “Nowadays, artist from the Third World who migrated for whatever resons to Western countries claim their place in the international art circuit” (lihat: Volker Küster, “Re/Constructing Identities-Third World Christian Art and Diaspora Art Compared”, ibid. h. 47). Dalam pengalaman saya, telah banyak perupa seni rupa Kristen Asia yang mempresentasikan karya-karya dan pemikirannya di tengah publik Barat. Kenyataan ini membuat publik Barat melihat betapa uniknya jenis ekspresi Kekristenan di wilayah-wilayah yang justru bukan berlatarbelakang sejarah dan budaya Kristen.
Secara teknik artistik potensi seni rupa Kristen Indonesia boleh dibagun di atas seni rupa modern Barat, namun sedalam-dalamnya hendaknya mengakar pada nilai-nilai budaya lokal hingga menemukan orisinalitas karya. Sebagian praktisi agama dan para teolog bahkan ingin membebani seni rupa Kristen agar membawakan peran Kenabian! Harapan tersebut tidak salah, artinya gagasan seni rupa Kristen harus berangkat dari persoalan yang paling real untuk mengartikulasikan segala “harapan” manusia serta pengalaman imanen ke ranah artistik. Berikut saya petikkan tulisan seorang teolog ketika memaknai karya seni rupa Kristen:
“Seni tidak cuma memampukan kita melihat dengan cermat apa yang kita lihat, tetapi juga membuat kita berpartisipasi di dalam apa yang kita lihat. Dengan begitu kita lalu melihat apa yang tidak terlihat. Yang transenden menjadi imanen. Atau lebih tepat yang imanen lalu mempunyai dimensia transendental” (Eka Darmaputra, “Karya Seni Sebagai Ekspresi Teologis”, katalog “Beberapa Wajah Seni Rupa Kristiani Indonesia”, PGI, Jakarta, 1993).
Sejauh ini saya belum menemukan suatu pengembangan seni rupa Kristen Indonesia yang secara ideologis hidup untuk mengartikulasikan persoalan-persoalan dan membawa dampak “perubahan”. Kegundahan visioner Eddy Soetriyono menyoal representasi seni rupa Kristen Indonesia, bukan untuk direpetisi (diulang-ulang) hanya sebagai wacana ,melainkan harus berani dibekaskan dalam kekinian!
SERUNI
Apa yang membuat pameran SERUNI kali ini menjadi penting untuk diapresiasi? Sebelum kita melangkah ke sana, perlu kita mengenali persoalan apa yang melatarbelakangi terbentuknya SERUNI. Seni rupa Kristen adalah bagian dari hasil kebudayaan, orang mengelola dan menandai kehadiran dan maknainya pada elemen estetika untuk mengecapi serta mempraktikkan pengalaman batin atau spiritual. Saya kutip sebuah nada “geram” yang dilontarkan oleh Samuel Tumanggor ketika melihat persoalan kebangsaan, “Jadi dalam seni kita dibawa pada pertanyaan serius: Sudah berhasilkan kita membangun jiwa Bangsa?..Dengan kata lain, aspek jiwaninya tidak atau sangat kurang diasah. Majal. Tumpul” (lihat, Samuel Tumanggor, “Bangkit Memandu Bangsa”, Literatur Perkantas, 2010, h. 71-72). Para inisiator SERUNI sadar akan urgensi melabuhkan visi keseniannya untuk menjawab persoalan kemanusiaan, religi, yakni kebudayaan Indonesia dengan menggarap ranah estetika rupa.
SERUNI digagas ulang secara aklamasi oleh para perupa perwakilan yang berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Menado, pada tanggal 30 November 2010 di Ciawi Bogor. Salah satu petikan statement kesenian SERUNI: “Seni rupa Kristen kini menggemakan kesegaran, keberanian, kritis, menyatakan kesatuan Tubuh Kristus, serta aktif membangun nilai sosial-religi-kemanusiaan”. Sikap keterbukaan SERUNI untuk mau belajar dan peka terhadap rupa-rupa kritik mau pun masukan, harus mendasari semangat berkesenian. Beberapa pengamat budaya mengkhawatirkan sikap sektarian atas pengelompokkan perupa berlabel Kristen. Yang lain menganggap visi ideologi kesenian SERUNI bersifat Utopis! Dan ada yang pula menganggap SERUNI tidak beda dengan wadah kumpul-kumpul! Motornya terdiri dari para praktisi rupa yang notabene bersifat craftsmenship (pertukangan) dan produk keseniannya dipertanyakan! Pada posisi inilah urgensi kesenian SERUNI dilabuhkan untuk membangun legitimasi seni rupa Kristen Indonesia, di tengah sikap fanatisme, apatisme, appriori, pesimistis! Sekalipun proses berkesenian SERUNI dibenturkan atau dikecilkan! Teman-teman perupa SERUNI boleh melihat potensi sebaliknya, ditantang dan diuji agar berdayaguna!
“BCOZOFME”
“BCOZOFME” ("Because of me”) adalah pilihan tema pameran karya-karya perupa SERUNI dalam memaknai misteri Kematian dan Kebangkitan Kristus. Kenyataan manusia adalah pendosa, hanya karena penebusan Kristus di kayu Salib manusia dimerdekakan! Karena aku (me) Kristus disalib! Karena Kristus (Me) manusia dimampukan kembali mencintai Tuhan dan sesama! Tema “BCOZOFME” menjadi undangan kreatif bagi para pemirsa untuk take a look and see it please! Konteks pameran SERUNI membangun dialog universalitas pemaknaan teks-teks seni rupa bagi kalangan umum, gereja, masyarakat Kristen, konteks akademi, para pencinta seni rupa, para pengamat seni-budaya atau kritikus. Tema “BCOZOFME” memancing dua kiblat dari mana sumber pernyataan itu bermuara. “me” sebagai aku (subyek: ego) atau “Me” yang merefer pada intonasi Biblis, “Kristus”. Atau kedua kiblat tersebut boleh dileburkan menjadi semacam kombinasi reflektif tentang sebuah “lakon” apa, di mana, bagaimana, siapa dan untuk apa? Pameran SERUNI bertema “BCOZOFME” menyerukan sebuah ajakkan agar kita mengecek, mengkritisi, membuat catatan-catatan, merefleksi, dan mempraktikkan kepekaan estetis! Selamat berdialog dan membangkitkan spiritualitas lewat apresiasi seni rupa!
Estetika Karya
Dalam menilai estetika karya setidaknya anda harus menelaah dua komponen pembentuk dasar seni rupa, berikut ini: Kematangan bahasa ungkap (teknik artistik) dan keunikan pilihan tema karya! Saya mengelompokkan karya-karya perupa SERUNI dalam tiga kencenderungan estetis, selebihnya tugas anda untuk mengapresiasi dan mengelaborasi! Kelompok pertama, tema kontekstualisasi penghayatan teks-teks Biblis dengan mengartikulasikan latarbelakang budaya, antara lain karya Ketut Lasia berjudul “Meredakan Angin Ribut”, Wahyu Komang dengan karya “Kelahiran”, Andre Titaley menampilkan karya berjudul “Tanda Luka Kristus”. Kedua, sebagian karya mengetengahkan imaji romantik-naturalis atas penghayatan teks-teks Biblis. Perupa mengeksposisi dengan ungkapan realis, naturalis, impresif, dekoratif, atau kombinasi. Perupa Youngke Manus menampilkan karya berjudul “Jesus”, Totok Winarno menyuguhkan kekuatan drawing dengan karya berjudul “Bolehkah Aku Masuk”, Jimmi Manus mengetengahkan karya “Legend of The Fall”, Fery Padang menampilkan karya surealis berjudul “Semerbak”. Perupa Erland Sibuea menampilkan karya dekoratif berjudul “2 Ikan dan 5 Roti”, Ni Ketut Ayu Sri Wardani dengan karya drama-impresif “Menuju Golgota”.
Ketiga, karya-karya dengan kecenderungan mengkaji atau memaknai penghayatan teks-teks Biblis ke dalam persoalan-persoalan realitas kontemporer, di antaranya: Perupa Setiyoko H. menampilkan karya realis berjudul “Katamu Siapakah Aku?”, Heru Susanto dengan karya realis berjudul “Tubuh yang ditinggalkan, Tubuh yang dikorbankan”, Jefry Wattimena menampilkan karya “There is A Hope”. Gde Sukana menghadirkan karya berjudul “Refleksi”, Antonius Kho dengan karya dekoratif-ekspresif berjudul “Wajah-Wajah yang Tersalib”, Wisnu Sasongko mengetengahkan karya impresif-dekoratif berjudul “Dead Body and Resurrection Body of Christ”, dan Deni Katili menampilkan karya dekoratif-impresif berjudul “Sisa-Sisa yang Menghidupkan”.
Harapan
Pameran seni rupa Kristen hendaknya membangun apresiasi interdialogis, melayangkan imaji-imaji keimanan dan Ketuhanan Kristus, membangkitkan aspek-aspek “kejelasan” melampaui verbalitas bahasa teologis atau bentuk-bentuk oralitas kesaksian. Di sinilah pentingnnya mengapa kita sebagai orang awam, akademisi, praktisi seni rupa, pencinta seni rupa, maupun masyarakat Kristen ditantang untuk meningkatkan kesadaran apresiasi seni rupa, khususnya melalui even pameran. Inilah saatnya para perupa SERUNI menyatakan kesediaanya untuk mewujudkan kesatuan tubuh Kristus atau persekutuan gereja yang “Am” Dengan konsitensi mengembangkan kesenian Kristen, menegakkan ideologi “kabar baik” untuk menggarami estetika seni rupa Indonesia. Orasi saya kiranya berhasil menghantarkan pemirsa pada umumnya untuk menemukan perlunya apresiasi seni rupa Kristen? Setidaknya memancing bagi tumbuhnya kritik dialogis! Dan apa jawab seni rupa SERUNI kini dan ke depan?
Yogyakarta, 20 Maret 2011.
Pencinta dan Praktisi Seni Rupa,
Wisnu Sasongko S.Sn. M. Hum.