Tuesday, November 22, 2016

Expression of Christian Faith through Art of Painting

16 January 2013 Expression of Christian Faith through Art of Painting An object of art is not merely limited to what one can see, but it also represents something more meaningful. Besides, it is framed within the artist's perspective, will, impression, and respond to the reality of faith. (Left-right) Made Saputra, Wisnu Sasongko, Prof. Manlian A. Ronald, Setiyoko Hadi, Elya K. Wibowo S., and Lusiana Idawati. ___ UPH's Visual Communication Design Department of Faculty of Design and Planning held a workshop on 'Expressing Christian Faith through the Art of Painting' on December 12, 2012 (12.12.12). The event took place at the Pelita Gallery, Building B of UPH Campus, Karawaci. The guests included Christian artists-painters who are representatives of SERUNI (Seni Rupa Kristen Indonesia): Wisnu Sasongko, S.Sn., M.Hum. (from Jogjakarta), Setiyoko Hadi, S.Sn. (from Jakarta), and Made Saputra, S.Sn. (from Bali). Lusiana Idawati, S.T., M.M., M.T., and Elya K. Wibowo S., M.A., arts critics and academician from Pelita Harapan University also took part on the event. ___ One of the purposes of holding such an event was to discuss several pieces of art craft from multiple points of view. Wisnu Sasongko, S.Sn. endeavored to elaborate art from the viewpoint of historical humanity right from the Renaissance up to the Reform movement, which is characterized by ardent expression of humanity and frequent use of divine symbols. In the present day, some artists-painters still persist, through their paintings, in delivering the Gospel. ___ Meanwhile, Setiyoko Hadi, S.Sn. dwelled on the symbols of self-denial from the visual expression of Christian faith. Made Suparta S.Sn. talked about the freedom of expression within the scope of Christian art. Each of the three experts made their own respective painting the object of the discussion. Wisnu Sasongko, on his 'Sang Guru' and 'The Crucifixion of Christ', mentioned the expressions of his own spiritual experience, which is altogether introspective and self-denying. ___ Elya K. Wibowo S., M.A., a UPH's academician and art critic, perceives art as a vast field in which its participants, particularly the artist themselves, are influenced by the Christian knowledge and perspective. Her opinion is based on Colossians 1: 15-16. "The words imply the wholeness of every known reality because there is not a single thing in life that goes unrelated to faith. In other words, art is inseparable from faith," explained Elya. ___ An object of art is not merely limited to what one can see, but it also represents something more meaningful. Besides, it is framed within the artist's perspective, will, impression, and respond to the reality of faith. ___ According to Mr. Elya, Christian art has never been merited a place it really deserves to be enjoyed and judged from various study disciplines, without considering that art has its own approach that results in misunderstandings. ___ Considering art as potential medium of contemplation, still according to Mr. Elya, there have been fear and negative opinion amongst the Protestants so that it is only viewed as a tool to accumulate teachings. Therefore, it has restricted people's viewpoint. Art is deemed by the church as an extension of its dogma instead of a sacrament that when one wishes to express the beauty of reality through art that matches their faith, it will not count as a form of worship. ___ Hence, a Christian perspective is critical in either producing or appreciating a piece of art. There is bound to be subjectivity in them, including that which comes from the contributing artist themselves. In conclusion, as stated by Mrs. Lusiana Idawati, the bottom line of the discussion is 'the author is not dead; instead, he is alive'. She agreed with what the previous speakers got to say i.e., God is closely related to art, and how art reflects faith. Both of which are based on Hebrews 11:1, in which one can tell critical virtues such as confidence, assurance, as well as substance. As for the second part, it consists of conviction, evidence, and proof. In the form of a piece of art, these elements are expressed. ___ She also touched on the subject of art and beauty as one that bridges virtue and truthfulness, referring to the perfection symbolizing, in the Christian faith, God Himself. Dean of Faculty of Design and Planning, Prof. Manlain A. Ronald viewed this seminar as the right kind of event to boost the quality of Christian faith and to learn to express it with fear-the-Lord designs. He is hopeful that, through this event, there will be new ideas and views that can enrich the field of painting in Indonesia. ___ A memo was signed at the end of the session between Visual Communication Design Department, on behalf of UPH, and SERUNI (Seni Rupa Kristen Indonesia) that covers the formation of a Christian-based community of painting art, participating in art seminar, and, last but not least, having them guest lecturers in the classroom. (rh) ____

Monday, November 21, 2016

Pameran Seni Rupa Seruni “Akulah Jalan”

Sebuah Eksposisi Seni Rupa, ____ Bagaimana seni menyoroti kehidupan modern yang dipenuhi dengan kompleksitas keterikatan dunia material yang tidak pernah ada habisnya? Sementara dunia modern menawarkan kemajuan, kebaruan, kenikmatan demi memenuhi dunia eksternal manusia, tanpa bisa menjangkau kebutuhan mendasar manusia akan kerohanian. Agama sekalipun kian sulit manjawab tantangan jaman justru karena lekat dengan ritualisme. Problema kemanusiaan tak mampu memenuhi sisi kerohanian dengan yang materialistik ataupun ritualistik. Sebagian orang mencari pemenuhan tersebut melalui jalur spiritualisme dan ada pula yang berani melabuhkan dalam keyakinan imani melalui jalur artistik. Perupa SERUNI, terdiri atas Setiyoko Hadi, Daniel Jakre, Tedianto Handoyo, Wisnu Sasongko, dan Sugiri Wiliam mengeksposisi pengalaman-penghayatan iman kristen yang dibangkitkan dari sebuah petikan Injil Yesus Kristus, “Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup” lewat ekspresi seni lukis. Di mana penghayatan teks Injil boleh dimaknai secara personal sekaligus menyatukan keragaman pendekatan antar perupa dan kegiatan ini secara khusus mengundang pemirsa untuk membangkitkan suasana dialogis termasuk kritik yang dapat menghidupi seni sebagai peristiwa. ____ Seni rupa telah sekian lama berada di luar dari tradisi religi oleh sebab pemisahan antara yang sakral dan sekuler, bahkan seni acap kali dicap “berbahaya” oleh karena dapat mencondongkan hati manusia kepada penyembahan berhala. Dahulu seni rupa menjadi bagian penting untuk membangkitkan semangat keagamaan kristen dan telah menyumbangkan kebudayaan Religi di abad Pertengahan yang memuncak di era Golden Age. Pada konteks saat ini keberadaan seni rupa religi berada di dua tempat yang berbeda, yakni konteks seni dalam peribadatan dan di luar itu maka olah religi-spiritualitas seni berada di kancah universal. Pada level ini ungkapan seni berani mengambil jarak demi menilai tradisi ikonik maupun teologis untuk dapat merefleksikan pengalaman spiritualitas dalam bahasa yang universal. _____ Keterhubungan antara seni dan religi merupakan suatu keniscayaan, mengingat kuatnya memori sejarah yang ditopang oleh kebutuhan akan seni reflektif pada masa kini. Yakni seni bisa diisi oleh pengalaman spiritualitas atau bahkan sebaliknya, yakni pengalaman trauma akan religi menjadi kekuatan ungkapan seni. Keduanya dapat sama-sama menyajikan kekuatan ekspresi sekalipun berasal dari sumber berbeda. Pengalaman menghayati iman kristen menyatukan perupa Setiyoko Hadi, Daniel Jakre, Tedianto Handoyo, Wisnu Sasongko, dan Sugiri Wiliam yang pada kesempatan ini menampilkan refleksi tema “Akulah Jalan” lewat berbagai gaya seni lukis. Ada yang mengolah aspek ikonografi ke dalam pendekatan optikal, naturalis, impresif, ekspresif. Ada pula yang intens dalam gaya bertutur visual secara imajinatif. Pameran ini kiranya menjadi sebuah keberanian menyaksikan cinta di tengah apatisme, harapan di tengah keputusasaan, syukur di tengah ketidakpuasan, ada Rahmat ditengah keterbatasan akal-budi. ______ Kritik terhadap seni keagamaan yang bersifat kotbah visual, yakni orang dibuat terlalu cepat mengalami fullness atau kepenuhan untuk menambal ruang-ruang kekosongan jiwa manusia. Memang kepenuhan rohani adalah hal yang paling diingini oleh orang-orang beragama. Kebalikkannya, seni pada masa kini justru menampilkan sisi emptienss atau kekosongan di mana orang diajak untuk meneruskan sendiri perjalannya ke dalam pengalaman sublimasi. Melalui tema pameran seni lukis “Akulah Jalan” oleh perupa SERUNI, menampilkan ragam pengalaman, penghayatan teologis beserta gaya pendekatan artistik sekaligus demi meyakini jalan kesenian ini bisa memberi kontribusi secara khusus maupun lebih luas. Wisnu Sasongko, S.Sn. M.Hum. (Penulis & Perupa tergabung dalam komunitas SERUNI)

Thursday, August 25, 2011

MENUJU KEINDONESIAAN DALAM EKSPRESI SENI RUPA KRISTEN



Sejenak kita boleh memasuki momen rupa yang dihadirkan oleh kelompok SERUNI (Seni Rupa Kristen Indonesia) dalam rangka memaknai Paskah 2011, di tengah publik seni rupa, akademia, masyarakat Kristen, institusi-institusi Kristen, Gereja dan terbuka lagi bagi masyarakat luas. Berangkat dari gagasan Eddy Soetriyono yang saya elaborasi, menyoal apakah seni rupa Kristen Indonesia dan bagaiman persoalan representasinya? (Eddy Soetriyono, “Jadilah Garam Seni Rupa; Sebuah Pengantar Diskusi”, Pamesrani, 1991) Persoalan tersebut masih relefan untuk dibangkitkan dan urgen untuk dijawab melalui even pameran perupa SERUNI kali ini! Melalui ekspresi karya-karya seni rupa Kristen Seruni, kita diajak untuk mericek aspek-aspek Keindonesiaan lewat artikulasi artistik maupun tematik. Ada dua pokok besar persoalan yang perlu saya hantarkan supaya kita mengakrabi proses apresiasi seni rupa Kristen melalui pameran perupa SERUNI bertema “BCOZOFME” (Inggris: “Because of me”), sebagai berikut: Pertama, menyoal apa itu seni rupa Kristen Indonesia? Dan persoalan menatap seni rupa Kristen Indonesia. Kedua, kita diajak merefleksi serta mendialogkan melalui pameran seni rupa Kristen SERUNI bertema “BCOZOFME”.

Kaitan Sejarah
Pada mulanya agama Kristen tidak berhubungan dengan seni rupa, bahkan agama-agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) melarang representasi atau visualisasi mahluk hidup (hewan dan manusia) karena ketakutan disorientasi religi pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Maka proses penerimaaan Kekristenan awal di daratan Eropa harus memberi apologia (pembelaan teologis) terhadap integrasi seni rupa dalam gereja. Simbol-simbol dan lukisan di Catacomb hasil represi terhadap Kekristenan mengawali kebudayaan visual Kristen Eropa yang memuncak dalam kejayaan Golden Age. Penggunaan ikon-ikon dan simbol-simbol Kekristenan justru banyak mengadopsi dari tradisi dan mitologi Yunani-Romawi. Dalam penggambaran “The Good Shepherd” di Roma, Catacomb of Marcellinus and Peter, abad ke-4. Figur Tuhan sebagai Gembala mengambil dari seni Yunani, yakni penggambaran Hermes membawa domba. Demikian juga gambaran Yesus di era itu mengambil dari perwajahan dewa Zeus yang bercambang lebat serta menakutkan. Perkembangan sejarah seni rupa Kristen di Eropa ditandai dari masa Katakombe, Bizantium, Romawi, Orthodok, Klasik Renaisans, Reformasi dan berlanjut dalam jenis seni rupa Modern. Hingga era Renaisance seni rupa masih dianggap sebagai hasil kerja pertukangan yang belum diakui aspek keindahan dan orisinilitasnya atau nilai estetika. Gereja memakai seni untuk kepentingan syiar agama, negara memakai seni untuk memperoleh legitimasi politik, dan seni rupa membentuk nilai estetis-idelogis dalam konteks jamannya.

Pengertian seni rupa sesungguhnya baru muncul dalam diskursus akademia yang berbasis pada rasionalitas dan estetika (keindahan), salah satu tokoh perupa dan pemikirnya adalah Leonardo Da Vinci (1452-1519). Di kemudian waktu seorang tokoh pemikir kesenian bernama Theodor W. Adorno (1903-1969) memberi pengertian "Seni Tinggi" untuk Seni Murni dan "Seni Rendah" untuk Seni Terapan. Karena menurutnya dalam seni tinggi seorang seniman tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal (kebutuhan market atau bertujuan komersial) dalam menciptakan sebuah karya seni, dan seni terapan berlaku sebaliknya. Pada umumnya kita mengenal karya-karya seni rupa Kristen, seperti: “Last Supper” (1495-48, oleh Leonardo Da Vinci), patung “David” atau patung “Pieta” oleh Michelangello (1475-1564). Hanya sayang sekali! Apresiasi seni rupa kaum awam, para praktisi seni rupa dan gereja sampai hari ini, masih berhenti pada eksplorasi ikonik, simbolik, narasi Biblis ala romantik-naturalis. Ada pula jenis seni kitsch (selera rendah atau imitasi).

Karena gereja bersifat tradisional, maka ia kesulitaan untuk mengikuti, mengkritisi bahkan menginspirasi bagi perkembangan jaman. Simbol-simbol dan ikon-ikon yang telah dihasilkan oleh gereja dan kebudayaan Barat, telah menjadi role model yang terus direpetisi melalui tradisi gereja hingga kini. Kesenian rupa Kristen berhenti pada level tekstualisasi Biblis, dan bila keluar dari sana, maka mudah sekali gereja memisahkan dengan penilaian sekular. Persoalan seni rupa Kristen di Indonesia dalam sejarahnya memang belum menjadi diskursus dan membangkitkan persoalan kesenian. Meskipun dalam perkembangannya di abad 20 hingga kini, baik secara komunal maupun individual telah ada perupa kita yang mengembangkan gagasan seni rupa religius-spiritual Kristen. Saya mengeksplisitkan bahwa, seni rupa Kristen bukan sekedar indah ala romantik-naturalis dan naratif Alkitabiah! Secara vertikal dan horisontal harus mengandung ideologi “Kerajaan Tuhan” dengan membawakan karakter budaya Indonesia. Sehingga bangunan seni rupa Kristen Indonesia harus mampu mengartikulasikan kesadaran religi-budaya secara terus-menerus. (Lihat kedua kroping Image yang saya sertakan).

Proses Inkulturasi
Membicarakan kapan munculnya seni rupa Kristen Indonesia, tidak bisa dilihat dari gejala kekiniannya saja tetapi harus meninjau jejak historis bagaimana proses inkulturasi agama Kristen pada kebudayaan Indonesia. Kita harus menyepakati dahulu sebuah pengertian, bahwa tumbuhnya suatu gejala kebudayaan tidak terjadi secara natural melainkan berangkat dari proses negosiasi nilai yang terjadi secara terus-menerus. Bangunan Kekristenan dan Keindonesiaan tidak seharusnya dikapling-kapling! Persoalan seni rupa Kristen harus diberangkatkan sebagai proses mengkonstruksi ideologi Keindonesiaan secara terus-menerus.

Kekristenan orang-orang Indonesia bermuasal dari tradisi Judeo, yakni bangsa Israel di Timur tengah. Berita injil disebarkan oleh bangsa Barat, antara lain Portugal, VOC atau Belanda dalam bagian dari ekspedisi kolonial ke Nusantara pada seputaran abad 14. Proses inkulturasi agama Kristen ke Nusantara hungga kini masih membawa persoalan hegemonisasi modern Barat. Tumbuhnya budaya Kristen di masing-masing wilayah Indonesia punya kekhasan, ada pun latarbelakang budaya lokal nusantara secara luas menganut Animisme-Hinduisme. Gejala inkulturasi agama Kristen (Protestan-Katholik) khusnya pada periode Hindia Belanda di abad 19-an, ditandai dengan penggunaan aspek-aspek visualitas (rupa) dan seni arsitektural dalam merekonstruksi Kekristenan di Indonesia (lihat gagasan inkulturasi katalog-buku, Volker Küster, “Christian Art in Asia: Yesterday dan Today”, The Christian Story: Five Asian Artist Today, Mobia, New York, 2007).

Dua kasus inkulturasi seni rupa Kristen Indonesia yang menarik untuk saya contohkan di sini antara lain: Representasi patung Yesus versi Hindu Jawa dan artsitektur gereja candi Ganjuran di Bantul Yogyakarta (dibangun pada tahun 1924 atas prakarsa dua bersaudara keturunan Belanda, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer). Kedua, gereja gaya Hindu-Jawa Puhsarang Kediri buah karya Ir. Henricus Maclaine Pont pada tahun 1936 atas permintaan pastor paroki Kediri H. Wolters, CM. Karya arsitektural dan seni rupa gereja Puhsarang mengkontekstualisasikan Injil yang menderivasi simbol-simbol Kekristenan di era Yunani-Romawi ke dalam kebudayaan Hindu-Jawa. Gereja Puhsarang menjadi bukti tensi evangelisasi dunia modern Barat ke dalam inkulturasi seni rupa modern, cuplikan kisah-kisah Alkitab, beserta tokoh-tokohnya.

Memasuki abad ke-20, pengaruh modernisasi, kapitalisasi dan demokratisasi kian membuka kesadaran bangsa Indonesia untuk memperjuangkan nilai-nilai “kemerdekaan”. Menurut saya seni rupa Kristen modern (dalam konteks seni lukis, grafis dan patung) mengalir di dalam tubuh seni rupa modern Indonesia yang digagas oleh S. Sudjojono. Perupa-perupa modern awal yang melahirkan karya-karya religi Biblis, seperti S. Sudjojono (1917-1986), Basuki Abdullah (1915-1993), Bagong Kusudiarjo (1928-2004). Karya-karya seni rupa Kristen modern kontemporer perupa Basuki Abdullah, Bagong Kusudiardjo, Noman Darsana (1938), mengangkat latarbelakang budaya dalam menterjemahkan iman Kristen. Karya-karya mereka belum memberi pijakan kuat, namun telah menunjukkan tanda-tanda ke mana seni rupa Kristen Indonesia dilabuhkan.

Subyek Persoalan
Seni rupa Kristen Indonesia tidak menyambung secara linier dari bangunan historis seni rupa Kristen Barat, melainkan punya persoalan sendiri. Karena Kekristenan dan Keindonesiaan tidak terpisahkan, maka persoalan ideologis ini melatarbelakangi dalam konstruksi seni rupa. Seni rupa modern Indonesia lahir sebagai antitesa dari seni Moi Indie (gaya naturalis-romatik) dan resisten terhadap bentuk-bentuk kolonialisme budaya. Seni rupa Kristen di era kolonial mewariskan persoalan identitas Keindonesiaan yang hingga kini masih menjadi subyek persoalan untuk kita jawab. Volker Küster menangkap persoalan seni rupa Kristen Indonesia punya potensi resisten terhadap “Pembaratan”, kenyataan ini disebutnya sebagai diaspora, migrasi, postcolonial or intercultural studies in academic circles (lihat: Volker Küster, “Re/ Constructing Identities-Third World Christian Art and Diaspora Art Compared”, “Visual Arts and Religion”, Contact Zone, 2009, h. 47). Persoalan lain, gereja dan institusi-institusi Kristen belum menjadi penyangga dari jenis seni rupa Kristen Indonesia. Kondisi tersebut menumbuhkan peran individu perupa, budayawan, akademi, dan infrastruktur market yang selama ini memberdayakan kelangsungannya. Di sinilah urgensi SERUNI dan kelompok-kelompok seni rupa Kristen untuk menjawab tantangan jamannya!

Intensi
Mari kita masuk pada persoalan intensi seni rupa Kristen Indonesia dan aspek-aspek representasi bentuk. Secara ideologis jenis seni rupa Kristen diciptakan mengarah pada dua sumbu, yakni transenden (Ketuhanan Kristus-Biblis) dan sumbu horisontal (kemanusiaan-kebudayaan). Saya kira perupa yang ingin mewujudkan seni rupa Kristen Indonesia dapat dinilai dari konsistensi keseniannya untuk mengembangkan religi-budaya, kecerdasan dan kematangan teknik-artistik, serta dilengkapi dengan bangunan manajemen seni rupa. Seni rupa Kristen kontemporer di Asia sudah dapat berdiri setara dengan seni rupa modern-kontemporer, kenyataan ini dikuatkan oleh penelitian Prof. Volker Küster, demikian: “Nowadays, artist from the Third World who migrated for whatever resons to Western countries claim their place in the international art circuit” (lihat: Volker Küster, “Re/Constructing Identities-Third World Christian Art and Diaspora Art Compared”, ibid. h. 47). Dalam pengalaman saya, telah banyak perupa seni rupa Kristen Asia yang mempresentasikan karya-karya dan pemikirannya di tengah publik Barat. Kenyataan ini membuat publik Barat melihat betapa uniknya jenis ekspresi Kekristenan di wilayah-wilayah yang justru bukan berlatarbelakang sejarah dan budaya Kristen.

Secara teknik artistik potensi seni rupa Kristen Indonesia boleh dibagun di atas seni rupa modern Barat, namun sedalam-dalamnya hendaknya mengakar pada nilai-nilai budaya lokal hingga menemukan orisinalitas karya. Sebagian praktisi agama dan para teolog bahkan ingin membebani seni rupa Kristen agar membawakan peran Kenabian! Harapan tersebut tidak salah, artinya gagasan seni rupa Kristen harus berangkat dari persoalan yang paling real untuk mengartikulasikan segala “harapan” manusia serta pengalaman imanen ke ranah artistik. Berikut saya petikkan tulisan seorang teolog ketika memaknai karya seni rupa Kristen:
“Seni tidak cuma memampukan kita melihat dengan cermat apa yang kita lihat, tetapi juga membuat kita berpartisipasi di dalam apa yang kita lihat. Dengan begitu kita lalu melihat apa yang tidak terlihat. Yang transenden menjadi imanen. Atau lebih tepat yang imanen lalu mempunyai dimensia transendental” (Eka Darmaputra, “Karya Seni Sebagai Ekspresi Teologis”, katalog “Beberapa Wajah Seni Rupa Kristiani Indonesia”, PGI, Jakarta, 1993).

Sejauh ini saya belum menemukan suatu pengembangan seni rupa Kristen Indonesia yang secara ideologis hidup untuk mengartikulasikan persoalan-persoalan dan membawa dampak “perubahan”. Kegundahan visioner Eddy Soetriyono menyoal representasi seni rupa Kristen Indonesia, bukan untuk direpetisi (diulang-ulang) hanya sebagai wacana ,melainkan harus berani dibekaskan dalam kekinian!

SERUNI
Apa yang membuat pameran SERUNI kali ini menjadi penting untuk diapresiasi? Sebelum kita melangkah ke sana, perlu kita mengenali persoalan apa yang melatarbelakangi terbentuknya SERUNI. Seni rupa Kristen adalah bagian dari hasil kebudayaan, orang mengelola dan menandai kehadiran dan maknainya pada elemen estetika untuk mengecapi serta mempraktikkan pengalaman batin atau spiritual. Saya kutip sebuah nada “geram” yang dilontarkan oleh Samuel Tumanggor ketika melihat persoalan kebangsaan, “Jadi dalam seni kita dibawa pada pertanyaan serius: Sudah berhasilkan kita membangun jiwa Bangsa?..Dengan kata lain, aspek jiwaninya tidak atau sangat kurang diasah. Majal. Tumpul” (lihat, Samuel Tumanggor, “Bangkit Memandu Bangsa”, Literatur Perkantas, 2010, h. 71-72). Para inisiator SERUNI sadar akan urgensi melabuhkan visi keseniannya untuk menjawab persoalan kemanusiaan, religi, yakni kebudayaan Indonesia dengan menggarap ranah estetika rupa.

SERUNI digagas ulang secara aklamasi oleh para perupa perwakilan yang berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Menado, pada tanggal 30 November 2010 di Ciawi Bogor. Salah satu petikan statement kesenian SERUNI: “Seni rupa Kristen kini menggemakan kesegaran, keberanian, kritis, menyatakan kesatuan Tubuh Kristus, serta aktif membangun nilai sosial-religi-kemanusiaan”. Sikap keterbukaan SERUNI untuk mau belajar dan peka terhadap rupa-rupa kritik mau pun masukan, harus mendasari semangat berkesenian. Beberapa pengamat budaya mengkhawatirkan sikap sektarian atas pengelompokkan perupa berlabel Kristen. Yang lain menganggap visi ideologi kesenian SERUNI bersifat Utopis! Dan ada yang pula menganggap SERUNI tidak beda dengan wadah kumpul-kumpul! Motornya terdiri dari para praktisi rupa yang notabene bersifat craftsmenship (pertukangan) dan produk keseniannya dipertanyakan! Pada posisi inilah urgensi kesenian SERUNI dilabuhkan untuk membangun legitimasi seni rupa Kristen Indonesia, di tengah sikap fanatisme, apatisme, appriori, pesimistis! Sekalipun proses berkesenian SERUNI dibenturkan atau dikecilkan! Teman-teman perupa SERUNI boleh melihat potensi sebaliknya, ditantang dan diuji agar berdayaguna!

“BCOZOFME”
“BCOZOFME” ("Because of me”) adalah pilihan tema pameran karya-karya perupa SERUNI dalam memaknai misteri Kematian dan Kebangkitan Kristus. Kenyataan manusia adalah pendosa, hanya karena penebusan Kristus di kayu Salib manusia dimerdekakan! Karena aku (me) Kristus disalib! Karena Kristus (Me) manusia dimampukan kembali mencintai Tuhan dan sesama! Tema “BCOZOFME” menjadi undangan kreatif bagi para pemirsa untuk take a look and see it please! Konteks pameran SERUNI membangun dialog universalitas pemaknaan teks-teks seni rupa bagi kalangan umum, gereja, masyarakat Kristen, konteks akademi, para pencinta seni rupa, para pengamat seni-budaya atau kritikus. Tema “BCOZOFME” memancing dua kiblat dari mana sumber pernyataan itu bermuara. “me” sebagai aku (subyek: ego) atau “Me” yang merefer pada intonasi Biblis, “Kristus”. Atau kedua kiblat tersebut boleh dileburkan menjadi semacam kombinasi reflektif tentang sebuah “lakon” apa, di mana, bagaimana, siapa dan untuk apa? Pameran SERUNI bertema “BCOZOFME” menyerukan sebuah ajakkan agar kita mengecek, mengkritisi, membuat catatan-catatan, merefleksi, dan mempraktikkan kepekaan estetis! Selamat berdialog dan membangkitkan spiritualitas lewat apresiasi seni rupa!

Estetika Karya
Dalam menilai estetika karya setidaknya anda harus menelaah dua komponen pembentuk dasar seni rupa, berikut ini: Kematangan bahasa ungkap (teknik artistik) dan keunikan pilihan tema karya! Saya mengelompokkan karya-karya perupa SERUNI dalam tiga kencenderungan estetis, selebihnya tugas anda untuk mengapresiasi dan mengelaborasi! Kelompok pertama, tema kontekstualisasi penghayatan teks-teks Biblis dengan mengartikulasikan latarbelakang budaya, antara lain karya Ketut Lasia berjudul “Meredakan Angin Ribut”, Wahyu Komang dengan karya “Kelahiran”, Andre Titaley menampilkan karya berjudul “Tanda Luka Kristus”. Kedua, sebagian karya mengetengahkan imaji romantik-naturalis atas penghayatan teks-teks Biblis. Perupa mengeksposisi dengan ungkapan realis, naturalis, impresif, dekoratif, atau kombinasi. Perupa Youngke Manus menampilkan karya berjudul “Jesus”, Totok Winarno menyuguhkan kekuatan drawing dengan karya berjudul “Bolehkah Aku Masuk”, Jimmi Manus mengetengahkan karya “Legend of The Fall”, Fery Padang menampilkan karya surealis berjudul “Semerbak”. Perupa Erland Sibuea menampilkan karya dekoratif berjudul “2 Ikan dan 5 Roti”, Ni Ketut Ayu Sri Wardani dengan karya drama-impresif “Menuju Golgota”.
Ketiga, karya-karya dengan kecenderungan mengkaji atau memaknai penghayatan teks-teks Biblis ke dalam persoalan-persoalan realitas kontemporer, di antaranya: Perupa Setiyoko H. menampilkan karya realis berjudul “Katamu Siapakah Aku?”, Heru Susanto dengan karya realis berjudul “Tubuh yang ditinggalkan, Tubuh yang dikorbankan”, Jefry Wattimena menampilkan karya “There is A Hope”. Gde Sukana menghadirkan karya berjudul “Refleksi”, Antonius Kho dengan karya dekoratif-ekspresif berjudul “Wajah-Wajah yang Tersalib”, Wisnu Sasongko mengetengahkan karya impresif-dekoratif berjudul “Dead Body and Resurrection Body of Christ”, dan Deni Katili menampilkan karya dekoratif-impresif berjudul “Sisa-Sisa yang Menghidupkan”.

Harapan
Pameran seni rupa Kristen hendaknya membangun apresiasi interdialogis, melayangkan imaji-imaji keimanan dan Ketuhanan Kristus, membangkitkan aspek-aspek “kejelasan” melampaui verbalitas bahasa teologis atau bentuk-bentuk oralitas kesaksian. Di sinilah pentingnnya mengapa kita sebagai orang awam, akademisi, praktisi seni rupa, pencinta seni rupa, maupun masyarakat Kristen ditantang untuk meningkatkan kesadaran apresiasi seni rupa, khususnya melalui even pameran. Inilah saatnya para perupa SERUNI menyatakan kesediaanya untuk mewujudkan kesatuan tubuh Kristus atau persekutuan gereja yang “Am” Dengan konsitensi mengembangkan kesenian Kristen, menegakkan ideologi “kabar baik” untuk menggarami estetika seni rupa Indonesia. Orasi saya kiranya berhasil menghantarkan pemirsa pada umumnya untuk menemukan perlunya apresiasi seni rupa Kristen? Setidaknya memancing bagi tumbuhnya kritik dialogis! Dan apa jawab seni rupa SERUNI kini dan ke depan?

Yogyakarta, 20 Maret 2011.
Pencinta dan Praktisi Seni Rupa,
Wisnu Sasongko S.Sn. M. Hum.

Wednesday, August 24, 2011

Writer Biography

:: ARTISTIC BIOGRAPHY OF WISNU SASONGKO

Address : Jl. Tengiri VII/ no. 23 Minomartani, Sleman, Yogyakarta 55581.
Website : www.sasongkoarts.com
FB/ email : ongkowegallery@yahoo.com
Handphone : 085879843430
________________
1975 born in Jakarta
1991 during junior high school Yogyakarta, I had active to participate in many local painting competitions.
1995 graduated from SMSRN Yogyakarta (Major Fine Art School)
1996 Entered at Fine Art Faculty ISI Yogyakarta
2001 Final Task, Thesis & solo paintings exhibition title "Human which Illuminated as a Source of Painting Ideas".
2002 Graduated from Fine Art Faculty ISI Yogyakarta (Undergraduate degree/ S. Sn.)
2006 Continued in Cultural Studies for Master Graduate program at Sanata Dharma University, Yogyakarta.
2010 Final thesis “Imaji Kerakyatan dalam Lima Karya Hendra Gunawan; Kajian Estetis dan Ideologis” (Post Graduate degree/ M. Hum).
2005-2010 Teaching/ Lecture as MK Nirmana & Drawing in Product Design Faculty in Christian University of Dutawacana Yogyakarta.

:: Speach & Research Program:

2010, Giving a speech in international Seminar theme “Religions and Arts” in UKDW with Prof. Volker Kuester (from Kampen Theologi University, The Netherland) provide by Theology Faculty of UKDW.
2009, Participate in Nagel Institute Seminar Yogya-Bali “Boundary Crossings” following by Asians artist & North Americans artist, sponsor by Nagel Institute, Civa, Plowshares and ACAA.
2008, Giving art presentations in theme “Harmony and Diversity Christian Art in Indonesian Context” (mobile event around Basel, Zurich, and Bern) April, 2008 in Switzerland sponsor by Mission 21.
2007, June 8- September 16, 2007 attending as an participant during painting exhibition at Mobia Museum New York City, USA “The Christian Story; Five Asians Artists Today”.
2004-2005, Artist in residence at OMSC 2004/2005 New Haven, CT, USA (www.omsc.org) by United Board Christian Higher Asian Education (doing research, working art at studio, having several solo exhibitions, study tour at arts museum/gallery and also arranging an art book and short movie).

:: Artistic Experiences
Solo & Duo Painting Exhibition:

2009
-Solo painting exhibition at Mission 21 House, Basel, Switzerland by Mission 21.
2008
-Solo art presentation and painting display theme “Harmony and Diversity; Christian Art in Indonesian Context” (mobile around Basel, Zurich, Bern) April, 2008 in Switzerland sponsor by Mission 21.
2007
-Solo Painting-Drawing display at Milton’s Branford, USA on 15-30 August, 2007.
2005
-Solo Exhibition in Luna Year at Barrington Center Gordon College, Boston, USA
-Participated at Arts Festival'05 Yale Asian Studies International School (SEAS) relief effort for Tsunami
-Solo Art Exhibition at Yale "Think on These Things" The Arts of Wisnu Sasongko, by OMSC and ISM Yale University (http://www.yale.edu/ism/events/sasongko.htm) CT USA
-Solo Painting Exhibition at International Performing Art Black Rock Gallery
http://www.internationalperformingarts.com Fair Field New York, US.
2004
-Feat with Dr. Hi Qi from Nanjing China in peinting exhibition "Image of God" at Art Corver Gallery by North Western College Iowa, USA
-Solo Exhibition CP Open Studio, Alternative Space on Art Space event 2004 New Haven, CT, US.
-Artist in residence at OMSC 2004/2005 (www.omsc.org) New Haven, CT USA by United Board Christian Higher Asian Education.
(During this year I had praticipated in many more arts exhibition.)
2000-2003
- Art exhibition Wisnu & Surajiya “The Loosing of Love; I come as a messenger of Love” at Purna Budaya UGM Yogyakarta sponsor by Karta Pustaka Yogyakarta.
-Solo exhibition "Under Wear in Metaphor" (“Metaphora Celana Dalam”) at Tembi Art House Bantul. www.tembi.org
(During this year I had praticipated in many more arts exhibition.)

Selected Group Exhibition:

2011
- Participate in SERUNI Indonesian Christian visual art exhibition theme: “BCOSOFME” (English: Because of Me) at MCU Gallery of Christian University Maranatha Bandung, 9-20 April 2011.
- Participate in visual art exhibition “UPRISING” Detik’96, reunion and artistic meditation on Merapi Erruption at Bele Rante Kleten, 17-23 April 2011.
2010
-Participate in art exhibition “Inventory”, Pembukaan Pondok Pesantren (dormitory for Islamic studies) Kali Opak Berbah, Sleman.
-Participate in MICHAS 2010 ‘arts for Asia’ (gathering some Asians Christian artist), in Gallery Dunia Seni Lukis Kuala Lumpur, Malaysia.
(During this year I had praticipated in many more arts exhibition.)
2009
-Participate in Charis Exhibition around USA-Asian “Boundary Crossings”. Asian- North American artist by Nagel Institute, CCCU, Plowshares, CIVA and ACAA.
2008
-Solo art presentation and display theme “Harmony and Diversity; Christian Art in Indonesian Context” (mobile around Basel, Zurich, Bern) April, 2008 in Switzerland sponsor by Mission 21.
2007
-Painting & collaboration in 100 Year remembrance of Affandi at Sanata Dharma University Yogyakarta by IRB post graduate campus on May 2007.
-Art book has published by OMSC “Harmony and Diversity”, The Art Of Wisnu Sasongko. www.omsc.org
- Participate and attending at “The Christian Story; Five Asians Artists Today”, held by Mobia Museum, New York City, USA June 8- September 16, 2007.
2006
-Participated in PAMERSANI: “Dia Sang Kasih Buah Ekspresi Iman” Indonesian at National Gallery, Jakarta held by PGI, BCAA, & ACAA on August 2006.
2005
-Participated at Arts Festival'05 Yale Asian Studies International School (SEAS) relief effort for Tsunami
-Participated in “Christ to Asia” 1-14 September 2005 at The Gallery at The Art House Yaddo Art Singapore (www.yaddoArt.com)
2000-2003
-“Spiritual Art exhibition” by ACAA & Keluargatuk at Affandi's museum
-Art exhibition and award in Peksiminas PERDA exhibition at Modern School Design Gallery Yogyakarta
-Participated Indonesian Cultural arts exhibition 02-04 through ACAA at Canada, New York, Pennsylvania.
1993-1999
-1998, Paintings exhibition in spiritual art event with Oceania’s Christians Artists at Aachen, Germany
-Participate at art exhibition Traditional and Modernity FKI I (following 1 graphic art and 1 painting) at Vredeburg fortress and also ISI art gallery at Yogyakarta
-Paticipate in Affandi Prize art exhibition at ISI Gallery, Sewon, Bantul (Yogyakarta)
(During this year I had praticipated in many more arts exhibition.)


:: ARTISTIC AWARDS/ PENGHARGAAN SENI RUPA

Art of Paintings contest awarded from TOTAL ART FINA E & F feat YSRI, 2001.
Awarded in Local Art Competition PEKSIMINAS Yogyakarta, 2001.